Majalah Assunnah

Mengikuti Imam Syafi’i
Mengikuti Imam Syafi'iPembaca,
Al-hamdulillah, tidak terasa, perjalanan majalah yang kita sayangi ini, Majalah As-Sunnah masuk tahun ke-12. Sebuah angka yang cukup lumayan untuk sebuah majalah menapaki kedewasaan dan tampil lebih baik, ilmiah dan berkualitas.
Kami sangat bersyukur, lambat laun tiras majalah ini meningkat pada hitungan 24.500 eksemplar. Ini merupakan salah satu indikasi yang baik, bahwa Majalah As-Sunnah sudah memiliki peminat yang selalu bertambah.
Pada gilirannya, berpotensi meningkatkan tingkat ilmiah masyarakat menuju level yang lebih baik. Terima kasih kami sampaikan kepada para pembaca, semoga kami dimudahkan oleh Allah Rabbul- ‘Alamîn untuk merealisasikan motto majalah, yaitu upaya menghidupkan Sunnah.
Pada edisi perdana ini, kami sengaja mengangkat tema-tema dari Daurah syar’iyyah VIII, di Trawas, Mojokerto, yang berlangsung pada 29 Muharram – 6 Shafar 1429 H atau 7-13 Februari 2008. Kami berharap, para pembaca dapat menikmati pula materi ilmiah yang disampaikan oleh murid-murid senior Syaikh al-Albâni rahimahullah.
Pembaca,
Pada edisi perdana tahun ke-12 ini, anda akan menjumpai beberapa perubahan majalah yang kita cintai ini, baik menyangkut performa kulit maupun isi. Ada beberapa rubrik baru yang akan selalu hadir ke hadapan pembaca –Insya Allah- yaitu Rubrik Ushulut-Tafsir dan Qawa’id Fiqhiyah. Kami berikan pula bonus sebanyak 16 halaman dengan harga tetap. Kami berharap, semoga keberadaan rubrik baru ini bisa memuaskan rasa haus pembaca terhadap ilmu-ilmu agama.
Demikian, washallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala âlihi wa shahbihi ajma’în.

Popularitas Imam Syâfi’i rahimahullah telah menyatu dengan sejarah umat Islam. Kematian tidak memudarkan ketenarannya. Jauhnya jarak masa kehidupan beliau yang sarat dengan aktifitas ilmiah dengan masa sekarang, tidak menyurutkan kharisma beliau di hati umat. Bila menilik ke belakang, keutamaan yang beliau rengkuh, memang merupakan sesuatu yang tidak mengherankan. Beliau telah mewariskan ilmu yang bermanfaat kepada umat, dimasa dulu, sekarang dan mendatang, sampai batas waktu yang Allah ‘Azza wa jalla kehendaki.

Berkat aktifitas keilmuannya tersebut, tak heran ummat menyandangkan gelar “Imam” pada beliau. Ketokohan Imam Syâfi’i rahimahullah – dalam konteks yang sudah berkembang di tengah masyarakat muslim – terletak pada kepiawaian dan keahlian beliau dari segi hukum Islam (fiqh). Pemahaman dan kerangka berpikirnya dalam bidang fiqh menjadi acuan. Akhirnya, sederetan nama Ulama besar Islam berakhiran dengan kata asy-Syâfi’i. Maknanya, mereka berpegangan dengan fiqh madzhab Muhammad bin Idrîs asy-Syâfi’i rahimahullah.
Manakala mencermati titik ketokohan Imam Syâfi’i rahimahullah -yang seolah-olah terpaku pada aspek fiqih semata- sejurus menimbulkan guratan tanda tanya, apakah hanya segi fiqh itu saja yang “pantas” menjadi cermin? Apakah tidak ada sisi lain dari diri beliau yang dapat ditiru, diteladani dan diikuti?
Misalnya dalam masalah aqidah?
Dijumpai, di tengah kaum muslimin yang mengaku berpegang pada madzhab Imam asy-Syâfi’i dalam masalah furu‘, namun tidak memahami (dan melaksanakan) madzhabnya kecuali masalah menyentuh wanita membatalkan wudhu‘. Sehingga, seandainya sang istri menyentuhnya -ketika telah berwudhu- walaupun tidak sengaja, maka ia sangat marah sembari berteriak: “Sungguh kamu telah membatalkan wudhu‘ku, wahai perempuan!” Apabila ditanya, tentang siapakah Imam asy-Syâfi’i tersebut, siapa namanya dan nama bapaknya, sebagian mereka tidak dapat memberikan jawaban, dan tidak mengenal tokoh tersebut dengan baik. Ditambah lagi, dalam masalah aqidah, ia menyelisihi aqidah Imam asy-Syâfi’i, dan dalam masalah furu‘ ia tidak mengerti dari madzhab beliau kecuali sangat sedikit. Sisi aqidah, sebenarnya otomatis menjadi bagian tak terpisahkan dari diri seorang muslim. Apalagi seorang berkaliber seperti Imam Syâfi’i. Beliau rahimahullah tidak mungkin hidup dengan hati yang kosong dari aqidah. Agaknya, sisi aqidah (keyakinan) beliau –yang
lebih penting dari fiqh– kabur di mata (sebagian) penganut madzhabnya. Aqidah, keyakinan, dan pemikiran Imam Syâfi’i dapat diketahui melalui kitab-kitab karangan beliau.
Utamanya dalam kitab al-Umm dan ar-Risâlah. Disela-sela pembahasannya, terselip pernyataan tegas beliau tentang tauhid (aqidah), kewajiban seorang muslim untuk tunduk dan mengikuti hadits shahîh, larangan berbuat istihsân (menganggap baik persoalan tanpa dalil).
Tentang aqidah beliau, juga dapat diketahui melalui buku-buku biografi beliau yang ditulis ulama-ulama Islam. Di antara kitab-kitab yang sudah akrab, seperti Manâqibusy-Syâfi’i (karya al-Khathîb al-Baghdâdi asy-Syâfi’i), al-Amr bil Ittibâ‘ wan Nahyu ‘anil-Ibtidâ’ (karya Imam Suyûthi asy-Syâfi’i), Tawâlit Ta‘sîs (karya al-Hâfizh Ibnu Hajar al-’Asqalani asy-Syâfi’i).
Mengikuti Imam Syâfi’i dalam beraqidah, merupakan perkara yang lebih substansial. Bahwasannya aqidah beliau bersumberkan Al-Qur‘ân dan Sunnah, sebagaimana diyakini oleh generasi Salaful-Ummah, generasi terbaik umat Islam, dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Sehingga mengikuti beliau rahimahullah tidak hanya berkutat pada taklid dalam masalah furu‘, tetapi juga harus bercermin pada beliau dalam masalah-masalah keimanan.
Wallahu a’lam.

4 responses to “Majalah Assunnah

  1. Assalamu’alaikum

    Tolong Ustadz ini di tanggapi.

    jakarta – Tuduhan PKS menganut aliran Wahabisme dibantah keras-keras oleh tokoh partai dakwah ini Hidayat Nurwahid. Menurut Hidayat, isu PKS Wahabi itu selalu dimunculkan setiap menjelang pilkada atau pemilu sebagai upaya mendiskreditkan PKS.

    “Itu pendapat klasik yang tidak benar yang selalu dimunculkan menjelang pilkada maupun pemilu. Itu adalah fitnah belaka. Kalau saja kami Wahabi tentu kami tidak akan mendirikan partai politik, sebab kaum Wahabi mengharamkan dan membid’ahkan partai politik,” kata Hidayat saat berdiskusi secara online dengan member detikforum Senin (23/3/2009).

    Hidayat menegaskan bahwa PKS berjuang untuk kejayaan NKRI. Karena itu, hal-hal yang melekat dalam konteks ke Indonesiaan seperti masalah pluralitas dan toleransi akan selalu dijunjung tinggi. “Prinsipnya kita memang menjunjung pluralitas dan toleransi dalam kehidupan agama di Indonesia tercinta ini,” papar Hidayat.

    Sebagai contoh, Ketua MPR ini menjelaskan mengenai tatacara pembangunan tempat ibadah. Hal ini untuk menjawab pertanyaan mengenai bukti sikap toleransinya PKS terhadap agama lain.

    “Sudah ada peraturan yang mengatur tentang pendirian tempat ibadah yang diberlakukan untuk semua umat beragama di seluruh Indonesia, bukan hanya di kawasan yang mayoritas penduduknya beragama Islam saja, justru dalam rangka pluralitas dan toleransi itu sendiri,” paparnya.

    Hidayat lalu mencontohkan penerimaan publik dalam pemilu 2004 lalu. “Sejak Pemilu 2004 lalu kehadiran PKS telah diterima dengan baik oleh kalangan sekuler maupun nonmuslim sekalipun,” papar PKS.

    “Terbukti PKS diajak berkoalisi oleh capres SBY-JK dan pemilih PKS ternyata sebagian adalah kalangan nonmuslim. Pandangan saya karenanya agar PKS melanjutkan saja perilaku politik bersih, peduli, profesional seperti yang dipersepsikan publik selama ini,” pungkas Hidayat.

  2. Afwan akhi, ana bukan ustadz. silahkan tanyakan kepada yang lebih alim. Wallahualam bhisowab

  3. Kalau wahabi yg dimaksud adalah Muhammad bin Abdul Wahab, tentunya semua ahlussunnah waljamaah termasuk orang yg sepaham dengan beliau, karena beliau adalah orang yg selalu berusaha menghidupkan Sunnah Rasul. Nah kalau orang2 yg sepaham dengan beliau dikatai dengan wahabi, maka jadilah semua ahlussunnah waljamaah menjadi wahabi. Dengan mengingkari diri bukan bagian dari wahabi yg berarti bukan golongan ahlussunah waljamaah, lantas PKS termasuk golongan apa?

  4. bagus teruskan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s